1. Memadamkan Kedengkian Permusuhan Dan Gangguan Orang Dengan Berbuat Baik Kepadanya
Ini merupakan cara yang paling berat bagi hawa nafsu, tak ada yang sanggup melaksanakannya kecuali orang yang mendapat keberuntungan yang besar dari Allah; yaitu memadamkan kedengkian permusuhan dan gangguan orang lain dengan berbuat baik kepadanya. Setiap kali gangguan keburukan permusuhan dan kedengkian itu bertambah, bertambah pula kebaikannya kepada musuhnya. Ia justru semakin iba dan kasihan kepada musuhnya... hatinya pun tergerak untuk menasehatinya.
Saya rasa Anda sulit mempercayainya apalagi mencobanya, maka renungkanlah firman Allah berikut:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ. وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ. وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
"Dan tidaklah, sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah ia menjadi teman yang setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika syaithan mengganggumu dengan suatu gangguan maka mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Ia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Fushshilat: 34-36).
أُوْلَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُم مَّرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَؤُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
"Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kabaikan, dan sebagian dari apa yang kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan." (QS. Al-Qashash: 54)
Perhatikanlah, bagaimana Nabi bercerita tentang dirinya tatkala ia dianiaya kaumnya hingga berdarah, lalu sembari beliau mengusap darah dari tubuhnya beliau berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَيَعْلَمُونَ
"Ya Allah ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui!"
Lihatlah bagaimana beliau mengumpulkan dalam dua kalimat ini empat kebaikan yang dengannya beliau menghadapi kejahatan yang besar dari kaumnya;
Pertama: memaafkan mereka,
Kedua: memintakan ampunan untuk mereka,
Ketiga: memberikan udzur atas mereka bahwa mereka tidak mengetahui, dan
Keempat: simpati beliau kepada kaumnya dengan menisbatkan mereka kepada dirinya ketika mengatakan: "...ampunilah kaumku". Seperti layaknya ketika seseorang hendak memintakan syafaat untuk orang lain maka ia akan mengatakan kepada orang yang dimintainya: "Ini puteraku atau anak buahku atau sahabatku, maka tolonglah dia demiku.."
Guna melunakkan dan melembutkan hati anda, perhatikanlah sekarang uraian berikut;
"Ketahuilah bahwa anda memiliki banyak dosa antara anda dengan Allah, anda takut akan siksa-Nya dan berharap akan ampunan magh-firah dan pemberian-Nya. Padahal Allah tidak akan sekedar mengampuni dan memaafkan saja, Dia bahkan akan mencurahkan nikmat-Nya kepada anda, memuliakan anda, dan mendatangkan kepada anda banyak manfaat dan kebaikan di luar yang anda bayangkan.
Jika anda menghendaki cara yang demikian dari Allah ketika Ia 'membalas' dosa dan kejelekan yang anda perbuat, maka alangkah afdhal-nya jika anda melakukan hal yang sama terhadap hamba-Nya. Kejahatan mereka anda balas dengan kebaikan agar Allah membalas dosa anda dengan cara yang sama, karena sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.
Sebagaimana anda membalas kejahatan orang lain kepada anda, seperti itulah Allah akan 'membalas' dosa-dosa anda sebagai balasan yang setimpal.
Jadi, anda boleh pilih; balas dendam atau maafkan... santuni atau biarkan! Karena barang siapa menyemai benih ia akan menuai hasil, dan sebagaimana anda memperlakukan hamba-hamba Allah demikian pulalah Allah akan memperlakukan anda.
Barangsiapa mampu menghayati makna di atas dan merenungkan dengan akal fikirannya, niscaya akan ringan baginya untuk berbuat baik terhadap orang yang jahat kepadanya. Apalagi jika di samping itu ia akan mendapatkan pertolongan Allah dan kebersamaan khusus dari-Nya (ma'iyyatullah), sebagaimana yang dikatakan Nabi kepada orang yang mengeluhkan tentang kerabatnya yang senantiasa dia santuni namun mereka berlaku jahat kepadanya, kata beliau:
وَلاَ يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيْرٌ مَادُمْتَ عَلَي ذَلِكَ
"Allah akan senantiasa menolong dan bersamamu selama kamu tetap seperti itu."
Apalagi di samping itu ia juga akan mendapat pujian manusia dan mereka akan bersatu memihaknya melawan musuhnya. Karena siapa saja yang mendengar tentang orang baik yang menyantuni orang yang jahat kepadanya pasti akan bersimpati kepadanya, membelanya dan mendoakannya... dan ini merupakan fitrah manusia yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya.
Dengan kebaikannya ia seakan-akan memiliki bala tentara yang dia tidak mengenal mereka, dan mereka pun tak mengenalnya. Mereka siap membelanya tanpa imbalan sedikitpun darinya. Apalagi jika ia tahu bahwa keadaannya dengan orang yang hasad dan memusuhinya tak lepas dari satu diantara dua hal;
Pertama: Ia dapat menguasai, 'memperbu-dak' dan menaklukkan musuhnya dengan kebaikan. Bahkan musuh itu akan luluh di hadapannya dan menjadi teman setianya, atau
Kedua: Ia dapat menjatuhkan mental musuhnya bahkan membinasakannya, jika si musuh terus-menerus dalam permusuhannya. Karena dengan kebaikan tersebut pada hakikatnya ia telah menimpakan kekalahan yang berlipat ganda kepada musuhnya dari pada kalau ia membalas dendam.
Siapa yang berani mencoba niscaya akan benar-benar merasakannya...
Allah lah yang memberi taufik dan pertolongan... di tangan-Nya lah segala kebaikan... tiada Ilah melainkan Dia... kepada-Nya lah kita berharap agar Dia menggerakkan hati kita dan seluruh kaum muslimin untuk mewujudkannya dengan karunia dan kemuliaannya.
Singkatnya, amalan ini memiliki lebih dari seratus manfaat baik duniawi maupun ukhrawi, insya Allah kami akan menjelaskannya di lain kesempatan.
2. Memurnikan Tauhid Untuk Allah
Ini merupakan penghulu dari apa-apa yang kita bahas sebelumnya dan padanya terletak keberhasilan setiap cara, yaitu memurnikan tauhid untuk Allah.
Kita akan beralih dari berfikir tentang sebab kepada Yang Menyebabkan, yaitu Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Perlu diketahui bahwa sebab-sebab tadi ibarat hembusan angin yang bergantung kepada Dzat yang menghembuskannya, Dialah pencipta angin tersebut. Angin tersebut tak akan bermanfaat atau mencelakakan kecuali atas seizin-Nya.
Dialah satu-satunya yang menghembuskan angin tersebut kepada siapa saja yang Ia kehendaki dari hamba-Nya, dan memalingkannya dari siapa saja yang Ia kehendaki dari mereka. Tiada dzat lain selain-Nya.
Allah berfirman:
وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ
"Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tiada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia, dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tiada yang dapat menolak karunia-Nya" (QS. Yunus : 107).
Nabi berkata kepada Abdullah bin Abbas:
وَاعْلَمُ أَنَّ الأَمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَي أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَئٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَئٍ قَدْكَتَبَهُ اللهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُواعَلَيْ أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَئٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَئٍ قَدْكَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ
"Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini bersatu padu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu niscaya mereka tak akan mampu memberimu manfaat sedikit pun kecuali berupa apa yang telah Allah tentukan bagimu. Dan seandainya mereka bersatu padu untuk mencelakaimu niscaya mereka tak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali berupa apa yang telah Allah tentukan atasmu" (H.R. Tirmidzi).
Tatkala seorang hamba berhasil memurnikan tauhid untuk Allah maka hatinya akan terbebas dari rasa takut kepada selain-Nya. Musuhnya pun menjadi tak seberapa menakutkan baginya dibanding rasa takutnya kepada Allah, bahkan hanya Allah lah yang ditakutinya. Maka Allah pun mengamankannya dari musuhnya hingga lenyaplah segala uneg-uneg dan fikiran yang menghantuinya.
Rasa takutnya, cintanya, tawakkalnya, inabah-nya dan perbuatannya hanya ia peruntukkan bagi Allah saja.
Ia sadar bahwa sibuk memikirkan keadaan musuh dan takut kepadanya merupakan sesuatu yang dapat menodai kemurnian tauhidnya, karena seandainya ia benar-benar memurnikan tauhidnya maka cukuplah hal itu menyibukkan dirinya dari hal lain. Kelak Allah lah yang akan bertugas menjaga dan membelanya karena Allah akan senantiasa menjadi pembela orang-orang yang beriman.
Jika ia termasuk orang yang beriman maka Allah pasti akan membelanya, dan pembelaan tersebut sesuai dengan kadar keimanannya. Jika imanya sempurna maka ia akan mendapat pembelaan maksimal dari Allah, dan jika imannya terkontaminasi maka pembelaan Allah pun akan mengendur. Begitu pula jika imannya mengalami 'pasang-surut' maka pembelaan Allah pun akan seperti itu.
Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian salaf: "Barangsiapa menghadap Allah sepenuhnya maka Allah pun akan menyambut sepenuhnya, dan barangsiapa berpaling dari Allah sepenuhnya maka Allah pun akan berpaling sepenuhnya darinya. Dan barangsiapa sesekali menghadap dan sesekali berpaling maka Allah pun akan seperti itu terhadapnya."
Singkatnya, tauhid merupakan benteng Allah yang paling kokoh, siapa saja yang memasukinya akan merasa aman.
Sebagian salaf mengatakan: "Barangsiapa takut kepada Allah maka segala sesuatu akan takut kepadanya, dan barangsiapa tidak takut kepada Allah maka segala sesuatu akan menakutkan baginya."
Inilah sepuluh cara untuk menolak kejahatan orang yang hasad, bahaya sihir dan sihir 'ain. Tak ada cara yang lebih bermanfaat untuk ini melainkan dengan menghadap kepada Allah, tawakkal dan yakin kepada-Nya, serta tidak menyekutukan-Nya dalam rasa takut dengan selain-Nya, akan tetapi rasa takutnya hanya kepada Allah semata. Demikian juga dengan tidak berharap kepada selain Allah namun hanya berharap kepada-Nya.
Hendaknya ia tidak menggantungkan hatinya kepada selain-Nya, tidak beristighasah kepada selain-Nya dan tidak berharap kecuali hanya kepada-Nya.
Ketika hati seseorang mulai bergantung kepada selain Allah, berharap dan takut kepada selain-Nya, seketika itulah ia akan dikuasakan' kepada yang ditakutinya dan menjadi hina di hadapannya. Karena barangsiapa takut kepada selain Allah maka ia akan dikuasakan kepadanya dan barangsiapa yang berharap sesuatu kepada selain Allah ia akan hina dihadapannya dan terhalang dari karunia Allah.
"Demikianlah sunnatullah (ketetapan) Allah atas hamba-Nya dan kamu tidak akan mendapati perubahan dalam sunnatullah itu."
Ini merupakan cara yang paling berat bagi hawa nafsu, tak ada yang sanggup melaksanakannya kecuali orang yang mendapat keberuntungan yang besar dari Allah; yaitu memadamkan kedengkian permusuhan dan gangguan orang lain dengan berbuat baik kepadanya. Setiap kali gangguan keburukan permusuhan dan kedengkian itu bertambah, bertambah pula kebaikannya kepada musuhnya. Ia justru semakin iba dan kasihan kepada musuhnya... hatinya pun tergerak untuk menasehatinya.
Saya rasa Anda sulit mempercayainya apalagi mencobanya, maka renungkanlah firman Allah berikut:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ. وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ. وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
"Dan tidaklah, sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah ia menjadi teman yang setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika syaithan mengganggumu dengan suatu gangguan maka mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Ia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Fushshilat: 34-36).
أُوْلَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُم مَّرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَؤُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
"Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kabaikan, dan sebagian dari apa yang kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan." (QS. Al-Qashash: 54)
Perhatikanlah, bagaimana Nabi bercerita tentang dirinya tatkala ia dianiaya kaumnya hingga berdarah, lalu sembari beliau mengusap darah dari tubuhnya beliau berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَيَعْلَمُونَ
"Ya Allah ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui!"
Lihatlah bagaimana beliau mengumpulkan dalam dua kalimat ini empat kebaikan yang dengannya beliau menghadapi kejahatan yang besar dari kaumnya;
Pertama: memaafkan mereka,
Kedua: memintakan ampunan untuk mereka,
Ketiga: memberikan udzur atas mereka bahwa mereka tidak mengetahui, dan
Keempat: simpati beliau kepada kaumnya dengan menisbatkan mereka kepada dirinya ketika mengatakan: "...ampunilah kaumku". Seperti layaknya ketika seseorang hendak memintakan syafaat untuk orang lain maka ia akan mengatakan kepada orang yang dimintainya: "Ini puteraku atau anak buahku atau sahabatku, maka tolonglah dia demiku.."
Guna melunakkan dan melembutkan hati anda, perhatikanlah sekarang uraian berikut;
"Ketahuilah bahwa anda memiliki banyak dosa antara anda dengan Allah, anda takut akan siksa-Nya dan berharap akan ampunan magh-firah dan pemberian-Nya. Padahal Allah tidak akan sekedar mengampuni dan memaafkan saja, Dia bahkan akan mencurahkan nikmat-Nya kepada anda, memuliakan anda, dan mendatangkan kepada anda banyak manfaat dan kebaikan di luar yang anda bayangkan.
Jika anda menghendaki cara yang demikian dari Allah ketika Ia 'membalas' dosa dan kejelekan yang anda perbuat, maka alangkah afdhal-nya jika anda melakukan hal yang sama terhadap hamba-Nya. Kejahatan mereka anda balas dengan kebaikan agar Allah membalas dosa anda dengan cara yang sama, karena sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.
Sebagaimana anda membalas kejahatan orang lain kepada anda, seperti itulah Allah akan 'membalas' dosa-dosa anda sebagai balasan yang setimpal.
Jadi, anda boleh pilih; balas dendam atau maafkan... santuni atau biarkan! Karena barang siapa menyemai benih ia akan menuai hasil, dan sebagaimana anda memperlakukan hamba-hamba Allah demikian pulalah Allah akan memperlakukan anda.
Barangsiapa mampu menghayati makna di atas dan merenungkan dengan akal fikirannya, niscaya akan ringan baginya untuk berbuat baik terhadap orang yang jahat kepadanya. Apalagi jika di samping itu ia akan mendapatkan pertolongan Allah dan kebersamaan khusus dari-Nya (ma'iyyatullah), sebagaimana yang dikatakan Nabi kepada orang yang mengeluhkan tentang kerabatnya yang senantiasa dia santuni namun mereka berlaku jahat kepadanya, kata beliau:
وَلاَ يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيْرٌ مَادُمْتَ عَلَي ذَلِكَ
"Allah akan senantiasa menolong dan bersamamu selama kamu tetap seperti itu."
Apalagi di samping itu ia juga akan mendapat pujian manusia dan mereka akan bersatu memihaknya melawan musuhnya. Karena siapa saja yang mendengar tentang orang baik yang menyantuni orang yang jahat kepadanya pasti akan bersimpati kepadanya, membelanya dan mendoakannya... dan ini merupakan fitrah manusia yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya.
Dengan kebaikannya ia seakan-akan memiliki bala tentara yang dia tidak mengenal mereka, dan mereka pun tak mengenalnya. Mereka siap membelanya tanpa imbalan sedikitpun darinya. Apalagi jika ia tahu bahwa keadaannya dengan orang yang hasad dan memusuhinya tak lepas dari satu diantara dua hal;
Pertama: Ia dapat menguasai, 'memperbu-dak' dan menaklukkan musuhnya dengan kebaikan. Bahkan musuh itu akan luluh di hadapannya dan menjadi teman setianya, atau
Kedua: Ia dapat menjatuhkan mental musuhnya bahkan membinasakannya, jika si musuh terus-menerus dalam permusuhannya. Karena dengan kebaikan tersebut pada hakikatnya ia telah menimpakan kekalahan yang berlipat ganda kepada musuhnya dari pada kalau ia membalas dendam.
Siapa yang berani mencoba niscaya akan benar-benar merasakannya...
Allah lah yang memberi taufik dan pertolongan... di tangan-Nya lah segala kebaikan... tiada Ilah melainkan Dia... kepada-Nya lah kita berharap agar Dia menggerakkan hati kita dan seluruh kaum muslimin untuk mewujudkannya dengan karunia dan kemuliaannya.
Singkatnya, amalan ini memiliki lebih dari seratus manfaat baik duniawi maupun ukhrawi, insya Allah kami akan menjelaskannya di lain kesempatan.
2. Memurnikan Tauhid Untuk Allah
Ini merupakan penghulu dari apa-apa yang kita bahas sebelumnya dan padanya terletak keberhasilan setiap cara, yaitu memurnikan tauhid untuk Allah.
Kita akan beralih dari berfikir tentang sebab kepada Yang Menyebabkan, yaitu Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Perlu diketahui bahwa sebab-sebab tadi ibarat hembusan angin yang bergantung kepada Dzat yang menghembuskannya, Dialah pencipta angin tersebut. Angin tersebut tak akan bermanfaat atau mencelakakan kecuali atas seizin-Nya.
Dialah satu-satunya yang menghembuskan angin tersebut kepada siapa saja yang Ia kehendaki dari hamba-Nya, dan memalingkannya dari siapa saja yang Ia kehendaki dari mereka. Tiada dzat lain selain-Nya.
Allah berfirman:
وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ
"Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tiada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia, dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tiada yang dapat menolak karunia-Nya" (QS. Yunus : 107).
Nabi berkata kepada Abdullah bin Abbas:
وَاعْلَمُ أَنَّ الأَمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَي أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَئٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَئٍ قَدْكَتَبَهُ اللهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُواعَلَيْ أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَئٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَئٍ قَدْكَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ
"Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini bersatu padu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu niscaya mereka tak akan mampu memberimu manfaat sedikit pun kecuali berupa apa yang telah Allah tentukan bagimu. Dan seandainya mereka bersatu padu untuk mencelakaimu niscaya mereka tak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali berupa apa yang telah Allah tentukan atasmu" (H.R. Tirmidzi).
Tatkala seorang hamba berhasil memurnikan tauhid untuk Allah maka hatinya akan terbebas dari rasa takut kepada selain-Nya. Musuhnya pun menjadi tak seberapa menakutkan baginya dibanding rasa takutnya kepada Allah, bahkan hanya Allah lah yang ditakutinya. Maka Allah pun mengamankannya dari musuhnya hingga lenyaplah segala uneg-uneg dan fikiran yang menghantuinya.
Rasa takutnya, cintanya, tawakkalnya, inabah-nya dan perbuatannya hanya ia peruntukkan bagi Allah saja.
Ia sadar bahwa sibuk memikirkan keadaan musuh dan takut kepadanya merupakan sesuatu yang dapat menodai kemurnian tauhidnya, karena seandainya ia benar-benar memurnikan tauhidnya maka cukuplah hal itu menyibukkan dirinya dari hal lain. Kelak Allah lah yang akan bertugas menjaga dan membelanya karena Allah akan senantiasa menjadi pembela orang-orang yang beriman.
Jika ia termasuk orang yang beriman maka Allah pasti akan membelanya, dan pembelaan tersebut sesuai dengan kadar keimanannya. Jika imanya sempurna maka ia akan mendapat pembelaan maksimal dari Allah, dan jika imannya terkontaminasi maka pembelaan Allah pun akan mengendur. Begitu pula jika imannya mengalami 'pasang-surut' maka pembelaan Allah pun akan seperti itu.
Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian salaf: "Barangsiapa menghadap Allah sepenuhnya maka Allah pun akan menyambut sepenuhnya, dan barangsiapa berpaling dari Allah sepenuhnya maka Allah pun akan berpaling sepenuhnya darinya. Dan barangsiapa sesekali menghadap dan sesekali berpaling maka Allah pun akan seperti itu terhadapnya."
Singkatnya, tauhid merupakan benteng Allah yang paling kokoh, siapa saja yang memasukinya akan merasa aman.
Sebagian salaf mengatakan: "Barangsiapa takut kepada Allah maka segala sesuatu akan takut kepadanya, dan barangsiapa tidak takut kepada Allah maka segala sesuatu akan menakutkan baginya."
Inilah sepuluh cara untuk menolak kejahatan orang yang hasad, bahaya sihir dan sihir 'ain. Tak ada cara yang lebih bermanfaat untuk ini melainkan dengan menghadap kepada Allah, tawakkal dan yakin kepada-Nya, serta tidak menyekutukan-Nya dalam rasa takut dengan selain-Nya, akan tetapi rasa takutnya hanya kepada Allah semata. Demikian juga dengan tidak berharap kepada selain Allah namun hanya berharap kepada-Nya.
Hendaknya ia tidak menggantungkan hatinya kepada selain-Nya, tidak beristighasah kepada selain-Nya dan tidak berharap kecuali hanya kepada-Nya.
Ketika hati seseorang mulai bergantung kepada selain Allah, berharap dan takut kepada selain-Nya, seketika itulah ia akan dikuasakan' kepada yang ditakutinya dan menjadi hina di hadapannya. Karena barangsiapa takut kepada selain Allah maka ia akan dikuasakan kepadanya dan barangsiapa yang berharap sesuatu kepada selain Allah ia akan hina dihadapannya dan terhalang dari karunia Allah.
"Demikianlah sunnatullah (ketetapan) Allah atas hamba-Nya dan kamu tidak akan mendapati perubahan dalam sunnatullah itu."


0 Komentar 10 Jurus Penangkal Sihir, Dengki dan Ain Bagian 9 dan 10
Posting Komentar