7. Memurnikan Taubat Untuk Allah
Yaitu dengan mengkhususkan taubat kepada Allah atas dosa-dosa yang menyebabkan musuh mampu menguasainya. Sebagaimana firman Allah:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri" (QS. Asy Syura: 30).
Allah berfirman kepada generasi terbaik, yaitu para sahabat Rasulullah bukan yang lainnya:
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَـذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنْفُسِكُمْ
"Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu mengatakan: "Dari manakah datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri" (QS. Ali Imran:165).
Tidaklah seorang hamba dapat dikuasai oleh musuhnya kecuali karena dosa yang diperbuatnya, baik yang dia ketahui maupun yang tidak diketahuinya. Sedangkan dosa-dosa yang tak diketahuinya jauh lebih banyak-dari pada yang ia ketahui. Dosa-dosa yang telah dilupakannya pun jauh lebih banyak dari pada dosa-dosa yang masih dia ingat.
Dalam sebuah doa yang masyhur disebutkan:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ
"Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan aku minta ampun kepada-Mu atas apa-apa yang tidak aku ketahui."1
Jadi seorang hamba harus lebih banyak ber-istighfar atas dosa-dosa yang tidak diketahuinya, dibandingkan dosa-dosa yang dia ketahui.
Salah seorang salaf suatu ketika bertemu dengan seorang lelaki kemudian tiba-tiba lelaki itu berkata kasar dan mencaci-makinya. Maka dia pun berkata kepada lelaki tersebut: "Tunggulah sebentar hingga aku masuk ke rumah kemudian keluar lagi untuk menemuimu", maka ia pun masuk ke rumahnya lalu sujud bersimpuh kepada Allah bertaubat dan kembali kepada-Nya. Kemudian ia keluar menemui lelaki tersebut, lelaki itu bertanya: "Apa yang barusan kamu lakukan?", maka jawabnya: "Aku bertaubat kepada Allah dari dosa yang menjadikanmu dapat merendahkanku."
Insya Allah akan kami jelaskan bahwa di dunia ini sebenarnya tidak ada kejahatan melainkan dosa-dosa yang kita perbuat dan sebagai akibatnya. Maka jika seorang hamba telah selamat dari dosa-dosa ia pun akan selamat dari akibat-akibatnya. Oleh karena itu tak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba tatkala ia dianiaya dan dikuasai musuhnya kecuali taubat nasuha.
Tanda orang yang bahagia ialah ketika ia mulai melihat dirinya sendiri dan mengoreksi semua dosa dan kekurangannya lalu ia sibuk dengannya membenahi kekurangan tersebut dan memperbanyak taubat, sehingga tak ada lagi peluang baginya untuk memikirkan hal lain. Hatinya tergerak dengan sendirinya untuk bertaubat dan mengoreksi kesalahannya, kemudian Allah lah yang kelak akan menolong dan menjaganya serta menolak darinya dan ini adalah suatu keharusan.
Alangkah bahagianya hamba semacam ini, alangkah besar keberkahan yang diterimanya dan alangkah baik pengaruh keberkahan itu pada dirinya. Akan tetapi hidayah dan taufik itu hanyalah di tangan Allah, tak ada seorang pun yang dapat menolak pemberian-Nya dan tidak ada yang dapat memberi sesuatu yang ditolak-Nya.
Tidak setiap orang beruntung mendapatkan taufik untuk bertaubat, dan tidak setiap orang mengenal taubat itu kemudian tergerak hatinya untuk melaksanakannya. Tidak ada pengetahuan, kehendak dan kemampuan hamba dan tiadalah daya dan upaya melainkan dari Allah.
8. Bersedekah Dan Berbuat Kebajikan Semampunya
Sedekah dan kebajikan memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menolak bala, mencegah sihir 'ain dan melenyapkan sifat hasad. Cukuplah apa yang dialami oleh umat-umat baik yang terdahulu maupun sekarang menjadi bukti akan hal ini.
Hampir tidak pernah kita dapati ada orang baik dan dermawan yang dimusuhi, sihir 'ain, atau didengki orang. Seandainya pun ia mengalaminya maka ia akan hadapi orang tersebut dengan lemah lembut dan uluran tangan sehingga kebaikan itu pun kembali kepadanya. Orang yang baik dan gemar bersedekah akan berada dalam penjagaan kebaikan dan sedekahnya, ia akan mendapat 'perisai' dari Allah yang akan melindunginya.
Secara umum, mensyukuri nikmat Allah merupakan cara terbaik untuk menjaganya dari sebab-sebab yang dapat menghilangkannya.
Di antara sebab yang paling dominan dalam hal ini ialah hasad dan sihir 'ain. Hal itu disebabkan karena orang yang hasad hatinya tidak akan puas dan lega hingga ia melihat kenikmatan itu lenyap dari orang yang didengkinya. Ketika itulah 'rintihan'nya terhenti dan api ke-dengkiannya padam - semoga Allah tidak memadamkannya! .
Jadi seorang hamba tidak bisa menjaga nikmat Allah dengan cara yang lebih baik dari pada mensyukurinya. Dan tak ada cara yang lebih cepat untuk melenyapkan kenikmatan tersebut selain dengan mempergunakannya untuk bermaksiat kepada Allah. Itulah kufur nikmat yang dapat menghantarkan pelakunya kepada kekafiran.
Orang yang baik dan dermawan ibarat seseorang yang memiliki tentara dan pasukan yang siap berperang membelanya sedangkan ia tidur nyenyak di atas kasurnya. Siapa yang memiliki musuh namun tidak punya pasukan maka ia seperti orang yang hampir saja dikalahkan musuhnya, meski kekalahan tersebut terjadi belakangan, Wallahul musta'aan.
Yaitu dengan mengkhususkan taubat kepada Allah atas dosa-dosa yang menyebabkan musuh mampu menguasainya. Sebagaimana firman Allah:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri" (QS. Asy Syura: 30).
Allah berfirman kepada generasi terbaik, yaitu para sahabat Rasulullah bukan yang lainnya:
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَـذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنْفُسِكُمْ
"Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu mengatakan: "Dari manakah datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri" (QS. Ali Imran:165).
Tidaklah seorang hamba dapat dikuasai oleh musuhnya kecuali karena dosa yang diperbuatnya, baik yang dia ketahui maupun yang tidak diketahuinya. Sedangkan dosa-dosa yang tak diketahuinya jauh lebih banyak-dari pada yang ia ketahui. Dosa-dosa yang telah dilupakannya pun jauh lebih banyak dari pada dosa-dosa yang masih dia ingat.
Dalam sebuah doa yang masyhur disebutkan:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ
"Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan aku minta ampun kepada-Mu atas apa-apa yang tidak aku ketahui."1
Jadi seorang hamba harus lebih banyak ber-istighfar atas dosa-dosa yang tidak diketahuinya, dibandingkan dosa-dosa yang dia ketahui.
Salah seorang salaf suatu ketika bertemu dengan seorang lelaki kemudian tiba-tiba lelaki itu berkata kasar dan mencaci-makinya. Maka dia pun berkata kepada lelaki tersebut: "Tunggulah sebentar hingga aku masuk ke rumah kemudian keluar lagi untuk menemuimu", maka ia pun masuk ke rumahnya lalu sujud bersimpuh kepada Allah bertaubat dan kembali kepada-Nya. Kemudian ia keluar menemui lelaki tersebut, lelaki itu bertanya: "Apa yang barusan kamu lakukan?", maka jawabnya: "Aku bertaubat kepada Allah dari dosa yang menjadikanmu dapat merendahkanku."
Insya Allah akan kami jelaskan bahwa di dunia ini sebenarnya tidak ada kejahatan melainkan dosa-dosa yang kita perbuat dan sebagai akibatnya. Maka jika seorang hamba telah selamat dari dosa-dosa ia pun akan selamat dari akibat-akibatnya. Oleh karena itu tak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba tatkala ia dianiaya dan dikuasai musuhnya kecuali taubat nasuha.
Tanda orang yang bahagia ialah ketika ia mulai melihat dirinya sendiri dan mengoreksi semua dosa dan kekurangannya lalu ia sibuk dengannya membenahi kekurangan tersebut dan memperbanyak taubat, sehingga tak ada lagi peluang baginya untuk memikirkan hal lain. Hatinya tergerak dengan sendirinya untuk bertaubat dan mengoreksi kesalahannya, kemudian Allah lah yang kelak akan menolong dan menjaganya serta menolak darinya dan ini adalah suatu keharusan.
Alangkah bahagianya hamba semacam ini, alangkah besar keberkahan yang diterimanya dan alangkah baik pengaruh keberkahan itu pada dirinya. Akan tetapi hidayah dan taufik itu hanyalah di tangan Allah, tak ada seorang pun yang dapat menolak pemberian-Nya dan tidak ada yang dapat memberi sesuatu yang ditolak-Nya.
Tidak setiap orang beruntung mendapatkan taufik untuk bertaubat, dan tidak setiap orang mengenal taubat itu kemudian tergerak hatinya untuk melaksanakannya. Tidak ada pengetahuan, kehendak dan kemampuan hamba dan tiadalah daya dan upaya melainkan dari Allah.
8. Bersedekah Dan Berbuat Kebajikan Semampunya
Sedekah dan kebajikan memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menolak bala, mencegah sihir 'ain dan melenyapkan sifat hasad. Cukuplah apa yang dialami oleh umat-umat baik yang terdahulu maupun sekarang menjadi bukti akan hal ini.
Hampir tidak pernah kita dapati ada orang baik dan dermawan yang dimusuhi, sihir 'ain, atau didengki orang. Seandainya pun ia mengalaminya maka ia akan hadapi orang tersebut dengan lemah lembut dan uluran tangan sehingga kebaikan itu pun kembali kepadanya. Orang yang baik dan gemar bersedekah akan berada dalam penjagaan kebaikan dan sedekahnya, ia akan mendapat 'perisai' dari Allah yang akan melindunginya.
Secara umum, mensyukuri nikmat Allah merupakan cara terbaik untuk menjaganya dari sebab-sebab yang dapat menghilangkannya.
Di antara sebab yang paling dominan dalam hal ini ialah hasad dan sihir 'ain. Hal itu disebabkan karena orang yang hasad hatinya tidak akan puas dan lega hingga ia melihat kenikmatan itu lenyap dari orang yang didengkinya. Ketika itulah 'rintihan'nya terhenti dan api ke-dengkiannya padam - semoga Allah tidak memadamkannya! .
Jadi seorang hamba tidak bisa menjaga nikmat Allah dengan cara yang lebih baik dari pada mensyukurinya. Dan tak ada cara yang lebih cepat untuk melenyapkan kenikmatan tersebut selain dengan mempergunakannya untuk bermaksiat kepada Allah. Itulah kufur nikmat yang dapat menghantarkan pelakunya kepada kekafiran.
Orang yang baik dan dermawan ibarat seseorang yang memiliki tentara dan pasukan yang siap berperang membelanya sedangkan ia tidur nyenyak di atas kasurnya. Siapa yang memiliki musuh namun tidak punya pasukan maka ia seperti orang yang hampir saja dikalahkan musuhnya, meski kekalahan tersebut terjadi belakangan, Wallahul musta'aan.


0 Komentar 10 Jurus Penangkal Sihir, Dengki dan Ain Bagian 7 dan 8
Posting Komentar