Mari Berbagi Kebaikan

Blog Postingan Kajian dan Hal Bermanfaat Lainnya

Minggu, 18 Juni 2017

10 Jurus Penangkal Sihir, Dengki dan Ain Bagian 5 dan 6

5. Mengosongkan Hati Dengan Tidak Memikirkannya

Hendaknya seseorang berusaha melupakan­nya setiap kali fikiran tersebut muncul di be­naknya. Jangan sampai ia menggubris dan men­cemaskannya, apalagi sampai menyibukkan ha­ti dengan memikirkan hal itu - yakni kejahatan orang yang hasad, bahaya sihir dan sihir 'ain.

Ini merupakan obat paling mujarab dan cara paling ampuh yang dapat menolong se­seorang untuk menolak bahaya-bahaya ter­sebut. Ibarat orang yang dikejar-kejar musuh untuk ditangkap dan disiksa, namun tiba-tiba musuh tersebut diam tidak mengapa-apakannya, keduanya pun tak saling bersentuhan, bah­kan musuh itu pun menyingkir dan tak kuasa mengganggunya.


 


Namun jika keduanya bersentuhan dan satu sama lain saling bersinggungan barulah bahaya tersebut terjadi.

Demikianlah, keadaan ruh (alam fikiran) pun juga seperti itu. Jikalau ruhnya masih terikat dengan fikiran-fikiran tersebut kemudian alam fikiran musuhnya pun bertautan dengan alam fikirannya baik ketika sadar maupun terlelap tanpa berpisah darinya, - padahal inilah sesungguhnya yang dikehendaki oleh yang ha­sad tersebut - maka saat itulah hatinya menjadi gelisah dan merasa bahwa bahaya tersebut se­lalu mengintainya hingga salah satu dari ke­duanya binasa.

Namun jika ia segera menarik ruh (alam fikirannya dari musuhnya kemudian menjaga­nya dengan tidak memikirkan atau mengingat­nya, bahkan tatkala fikiran tersebut terlintas di benaknya segera ia lupakan lalu ia menyibuk­kan fikirannya dengan hal-hal yang lebih pen­ting dan bermanfaat, niscaya musuh itupun akan tinggal sendirian tanpa lawan sehingga lambat laun ia 'menerkam' dirinya sendiri. Karena ke­dengkian (hasad) itu ibarat api, tatkala api ter­sebut tidak lagi mendapati apa yang bisa diba­karnya maka ia akan membakar dirinya sendiri.

Ini merupakan pintu keluar besar yang ti­dak diberikan kecuali kepada jiwa-jiwa yang mulia dan tinggi. Adapun jiwa pendendam yang hanya ingin melampiaskan dendamnya dan merasa lega dari musuhnya, maka jiwa sema­cam ini jauh dari pintu tersebut.

Alangkah jauhnya perbedaan antara orang yang arif dan bijak dengan orang semacam ini. Seseorang tidak mungkin dapat mengetahui ka­pasitas dirinya sebelum mencicipi 'manis' dan 'nikmat'nya ujian ini. Seakan ia melihat bahwa siksaan batin yang terbesar ialah dengan sibuk memikirkan musuhnya serta merasa terikat dengannya. Tak ada yang lebih menyiksa hatinya dari pada itu...

Yang dapat membenarkan hal ini hanyalah jiwa-jiwa yang tenang dan lembut yang telah ridha Allah menjadi wakilnya, dan tahu bahwa pembelaan Allah atasnya adalah lebih baik dari pada pembelaan dirinya sendiri atau orang lain. Ia beriman kepada Allah dan merasa tenang berada bersama-Nya... ia yakin bahwa jaminan Allah itu haq dan janji-Nya adalah benar... tak ada yang lebih menepati janji dari Allah dan tak ada yang lebih benar perkataannya selain Dia.

Ia sadar bahwa pertolongan Allah atasnya le­bih kuat, mantap, langgeng dan bermanfaat da­ri pada pertolongannya sendiri atau orang lain.


6. Bertaqarrub Dan Mengikhlaskan Diri Untuk Allah

Yaitu dengan menjadikan rasa mahabbatullah (cinta kepada Allah), berharap akan ridha-Nya dan inabah (kembali kepada-Nya) senantiasa mengisi hatinya dan menjadi cita-cita yang ber­jalan bersama hatinya sedikit demi sedikit se­hingga dapat mengalahkan pengaruh buruk orang yang hasad kepadanya dan mengikisnya per­lahan-lahan hingga hilang sama sekali.

Dengan demikian yang tinggal di hatinya hanyalah cita-citanya mendapatkan kecintaan Allah, bertaqarrub kepada-Nya, mencari ridha-Nya, mendapat belas kasih-Nya dan selalu ingat ke­pada-Nya seperti seseorang yang selalu ingat akan kekasihnya yang senantiasa berbuat baik kepadanya. Hatinya dipenuhi kerinduan ke­padanya sehingga tak sekejap pun ia dapat me­lupakannya dan tak akan kosong hatinya dari kecintaannya tersebut

Jikalau hati telah seperti itu keadaannya, maka bagaimana mungkin ia akan rela mengisi kembali hati dan alam fikirannya dengan me­mikirkan kejahatan orang yang hasad kepada­nya?? Hal itu tak akan pernah terfikirkan ke­cuali oleh hati yang rusak yang tak pernah me­nerima sentuhan mahabbatullah dan Kemuliaan-Nya serta mengharapkan keridhaannya!

Bahkan ketika sebersit dari fikiran jelek ter­sebut melewati 'gerbang' hatinya, seketika itu pula para 'penjaga gerbang' tersebut meneriaki­nya: "Hati-hati kamu, jangan coba-coba men­dekati wilayah kekuasaan 'raja' kami! Enyahlah kamu ke 'tempat-tempat penginapan' yang mau menerima siapa saja yang singgah kepada­nya... kamu tidak ada urusan dengan 'benteng kerajaan' yang telah terjaga ketat ini...!"

Allah berfirman ketika mengisahkan tentang Iblis musuh-Nya yang berkata:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ. إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

"Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis diantara mereka" (QS. Shaad: 82 - 83)

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekua­saan bagimu terhadap mereka, (QS. Hijr: 42)

Dia pun menjawab:

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُم بِهِ مُشْرِكُونَ

"Sesungguhnya syaithan itu tidak ada kekuasaan baginya atas orang-orang yang beriman dan ber-tawakkal kepada Rabb-nya. Sesungguhnya kekua­saan syaithan itu hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah" (QS. An Nahl: 99-100).

Allah berfirman tentang Yusuf Ash Shiddieq

كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاء إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

"Demikianlah agar Kami memalingkan dari pa­danya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba Kami yang terpilih." (QS. Yusuf: 24).

Alangkah bahagianya orang yang masuk ke dalam 'benteng' tersebut, ia telah bertahan da­lam benteng yang kokoh, siapa saja yang berta­han di dalamnya maka ia tidak akan takut dan terlantar, dan musuh pun tak berselera mende­katinya.

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

"Demikianlah karunia Allah, diberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mem­punyai karunia yang besar" (QS. Al Jumu'ah : 4). "


(Bersambung)

0 Komentar 10 Jurus Penangkal Sihir, Dengki dan Ain Bagian 5 dan 6

Posting Komentar

Back To Top