Mari Berbagi Kebaikan

Blog Postingan Kajian dan Hal Bermanfaat Lainnya

Sabtu, 17 Juni 2017

Bolehkah Jika Ruqyah Dijadikan Alat Mencari Popularitas?

Metode pengobatan ruqyah memang telah mendapat tempat di masyarakat. Sayangnya, hal ini justru kemudian disalahgunakan dan dikomersialkan sejumlah orang yang menampilkan sekaligus mengiklankan dirinya sebagai ahli ruqyah.

Ketika menelusuri sejarah kehidupan manusia, generasi demi generasi berikut segala peristiwa yang terjadi, seseorang akan terbawa ke dalam dua sifat mulia bila dia mendalaminya dengan kacamata Islam.......
Pertama, munculnya rasa takut ketika mengingat penghancuran hebat dari Allah atas suatu kaum yang mendustakan agama, menentang para rasul, serta ingkar kepada-Nya.
Kedua, munculnya harapan ketika menemukan limpahan rahmat dan keberkahan hidup dari Allah yang didapatkan oleh suatu kaum yang taat dan menerima segala yang datang dari Allah melalui para rasul.

Setelah itu, rasa takut yang menghing-gapinya membawanya kepada satu sikap “siap meninggalkan segala yang dilarang Allah yang akan mendatangkan murka-Nya, betapapun kuat dorongan dari dalam dirinya dan besarnya pembelaan dari luar.” Dan harapan yang tumbuh pada dirinya akan membawanya menuju “semangat untuk mewujudkan ketaatan dengan menapaki langkah pendahulunya yang diridhai Allah di dalam melaksanakan titah-titah-Nya, meskipun ia membencinya dan dari luar dirinya mendukungnya.”

Allah kisahkan pengusiran kaum kafir Yahudi dan Nasrani dari negeri mereka. Mereka mau tidak mau harus keluar dari negerinya dan mengakui bahwa benteng-benteng mereka tidak akan bisa mencegah siksaan Allah. Setelah itu Allah menurunkan hukuman kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Allah benamkan rasa takut ke dalam dada mereka. Akhirnya rumah mereka musnah oleh tangan mereka sendiri dan tangan orang yang beriman.

Kemudian Allah menutup pelajaran ini dengan firman-Nya........
“Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berfikir.”
(Al-Hasyr: 2)

Allah menceritakan pertemuan dua kubu dalam sebuah pertempuran, yakni antara orang kafir dan orang yang beriman. Di mana orang kafir menyaksikan orang yang beriman dua kali lipat jumlahnya. Selanjutnya Allah menolong kaum mukminin setelah itu. Dia menutup pelajaran ini dengan firman-Nya............
 “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berfikir.”
(Ali ‘Imran: 13)

Allah menceritakan pendustaan suatu kaum terhadap para rasul yang diutus kepada mereka, sehingga Allah menimpakan siksaan kepada mereka dan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang beriman. Kemudian Allah menutup pelajaran ini dengan firman-Nya.............
“Sungguh dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang yang berfikir. Al-Qur`an itu bukanlah perkataan yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
(Yusuf: 111)

Allah menceritakan keangkuhan Fir’aun yang telah menobatkan dirinya sebagai tuhan selain Allah setelah dia mendustakan Nabi Musa u. Allah kemudian mengadzabnya di dunia maupun di akhirat. Lalu Allah menutup pelajaran ini dengan firman-Nya.........
“Sesungguhnya pada perkara itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang (memiliki) rasa takut.” (An-Nazi’at: 26)

“Berjalanlah kalian di muka bumi, lalu lihatlah kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (Ali ‘Imran: 137)

“Katakanlah: ‘Berjalanlah kalian di muka bumi, kemudian saksikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)’.” (Al-An’am: 11)

“Dan saksikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang (melakukan) kerusakan.” (Al-A’raf: 86)

“Katakanlah: ‘Berjalanlah kalian di muka bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat maksiat’.” (An-Naml: 69)

“Katakanlah: ‘Berjalanlah kalian di muka bumi, lalu lihatlah kesudahan orang-orang sebelum kalian, kebanyakan mereka menyekutukan Allah’.” (Ar-Rum: 42)

Ibnu Katsir menjelaskan.......
“Katakanlah wahai Muhammad kepada mereka: ‘Berjalanlah kalian di muka bumi ini. Saksikanlah kesudahan orang-orang yang berbuat maksiat, yaitu orang-orang yang mendustakan para rasul dan segala apa yang mereka bawa, baik yang terkait dengan urusan hari akhir ataupun selainnya. Bagaimana kemurkaan, adzab, dan ancaman Allah menimpa mereka. Dan Allah selamatkan para rasul dan orang-orang yang mengikutinya dari kalangan kaum mukminin. Semua ini menunjukkan kebenaran apa yang dibawa para rasul tersebut.”
(Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 3/390)

0 Komentar Bolehkah Jika Ruqyah Dijadikan Alat Mencari Popularitas?

Posting Komentar

Back To Top