Ruqyah merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Dikatakan sebagai salah satu bentuk ibadah, karena perbuatan ini dicintai dan diridhai oleh-Nya. Sebagai-mana definisi ibadah menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.......
“Ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah baik berbentuk ucapan atau perbuatan yang nampak ataupun tidak nampak.”
Terlebih lagi, pada amalan ruqyah ini terdapat unsur ta’awun (tolong-menolong) syar’i dalam upaya melepaskan saudara kita dari belenggu yang memberatkan dirinya. Dalil-dalil yang menunjukkan ruqyah sebagai salah satu bentuk ibadah terlalu banyak. Di antaranya, Allah berfirman........
“Tolong-menolonglah kalian di dalam kebajikan dan ketaqwaan dan jangan kalian tolong-menolong di dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”
(Al-Maidah: 3)
Berikut dalil-dalil yang bisa menjadi landasan.
1. Rasulullah S.A.W bersabda...............................
“Barangsiapa melepaskan saudaranya dari kesulitan di dunia, niscaya Allah akan melepaskannya dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. Dan barangsiapa memberikan kemudahan bagi saudaranya yang mendapat-kan kesulitan, niscaya Allah akan memudah-kan urusannya di dunia dan di akhirat. Serta barangsiapa menyembunyikan aib saudara-nya, maka Allah akan menyembunyikan aibnya di dunia dan akhirat. Pertolongan Allah selalu menyertai seorang hamba, selama hamba itu menolong saudaranya.”
2. “Dari Salim, dari bapaknya (Ibnu ‘Umar), bahwa Rasulullah S.A.W bersabda................
‘Seorang muslim merupakan saudara muslim lainnya. Maka tidak boleh mendzaliminya dan tidak boleh menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa memenuhi hajat saudaranya, niscaya Allah akan selalu memenuhi hajatnya. Dan barangsiapa mengeluarkan saudaranya dari kesulitan, niscaya Allah akan mengeluarkannya dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib saudaranya, niscaya Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.”
3. “Dari ‘Aisyah......
Bahwa Nabi meniup dirinya ketika sakit di akhir hayat beliau dengan al-mu’awwidzat. Dan ketika berat atas beliau (untuk melakukannya), (kata ‘Aisyah) sayalah yang meniupkan untuk beliau, lalu saya mengusapnya dengan tangan beliau sendiri karena barakah yang terkandung padanya.”
4. “Dari Ummu Salamah.......
bahwa Nabi S.A.W melihat di rumahnya seorang budak wanita dan di wajahnya terdapat warna (kehitaman) maka (beliau berkata): ‘Ruqyahlah dia, sesungguhnya dia terkena penyakit ‘ain (pandangan jahat).”
Dari dalil-dalil di atas maka jelas bahwa ruqyah itu merupakan sebuah ibadah kepada Allah. Syarat Ibadah
Karena ruqyah itu merupakan sebuah ibadah, sudah barang tentu akan bernilai ibadah di sisi Allah jika dibangun di atas aqidah tauhid yang benar, sebagaimana firman Allah.........
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyem-bah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Abdullah bin ‘Abbas c mengatakan illa liya’buduuni artinya......
“Agar mereka mengakui peribadatan adalah milik-Ku, baik dalam keadaan suka ataupun terpaksa.”
(Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4/246)
Al-Imam Al-Qurthubi t menga-takan.........
“(Maknanya adalah) tidaklah Aku menciptakan orang-orang yang mendapat-kan kebahagiaan dari kalangan jin dan manusia, melainkan (karena) mereka mentauhidkan-Ku.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t mengatakan..........
“Ibadah adalah tauhid.”
Kemudian dijelaskan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.......
“Ibadah itu dibangun di atas tauhid. Dan setiap ibadah yang tidak (didasari) tauhid bukanlah sebuah ibadah. Terlebih lagi,
sebagian ulama salaf menafsirkan firman Allah ‘kecuali agar mereka menyembah-Ku’ yaitu kecuali agar mereka mentauhidkan Aku. Dan ini sangat sesuai dengan apa yang disimpulkan pengarang (yakni Asy-Syaikh Muhammad) bahwa ibadah itu adalah tauhid, dan setiap ibadah yang tidak dibangun di atas tauhid adalah (ibadah) batil.
Rasulullah S.A.W bersabda.........
‘Allah berfirman: Aku tidak butuh kepada sekutu. Barangsiapa melakukan sebuah amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku (pada amalan tersebut), Aku akan membiar-kannya dengan amalan syiriknya tersebut.”
(Al-Qaulul Al-Mufid Syarah Kitab Tauhid, 1/55)
Realisasi tauhid dalam peribadatan adalah “Tidak bertujuan melainkan mengharapkan wajah Allah dan tidak memberikannya kepada selain-Nya. Yaitu ibadah yang tidak dikotori oleh noda-noda riya`, mengharapkan pujian dari orang lain, atau agar memiliki tempat dalam hati manusia.”
Ada dua syarat ibadah yang harus dipenuhi ketika akan menegakkan sebuah ibadah: Pertama: Ikhlas semata-mata mencari wajah Allah.
Ikhlas artinya mengharapkan ridha Allah semata dan tidak menginginkan selainnya. Keikhlasan ini merupakan implementasi dari syahadat .
Hudzaifah Al-Mar’asyi mengatakan..........
“Ikhlas adalah keseimbangan antara perbuatan lahiriah dan batiniah seorang hamba.”
Abu Qashim Al-Qusyairi menjelaskan..........
“Ikhlas adalah mengesakan Allah dalam ketaatan yang hanya bertujuan untuk-Nya. Yakni dengan ketaatan yang dilakukannya itu, dia ingin mendekatkan diri kepada Allah dan bukan kepada selain-Nya, seperti berbuat karena makhluk, mencari pujian orang, senang mendapatkan pujian, atau segala makna yang tidak untuk mendekat-kan diri kepada Allah.”
Abu Muhammad Sahl bin Abdullah t menjelaskan..........
“Orang-orang berilmu telah melakukan penggalian dalam menaf-sirkan keikhlasan. Dan mereka tidak menemukan (makna lain) selain: Gerak dan diamnya seseorang, baik ketika sendirian atau bersama orang lain, hanyalah untuk Allah semata, dan tidak dicampuri oleh keinginan hawa nafsu dan dunia.”
(Al-Adzkar karya Al-Imam An-Nawawi hal. 5)
Ibnu Qudamah t menjelaskan...........
“Ikhlas merupakan lawan syirik. Barang-siapa tidak ikhlas, dia adalah seorang musyrik. Namun kesyirikan itu memiliki tingkatan-tingkatan. Keikhlasan di dalam ketauhidan lawannya adalah kesyirikan di dalam uluhiyyah. Dan kesyirikan itu ada yang tersembunyi dan ada yang nyata. Begitu juga keikhlasan.”
(Mukhtashar MinhajulQashidin, hal. 366)
Ibnul Qayyim t menjelaskan..........
“Orang-orang yang ikhlas adalah: orang-orang yang merealisasikan Iyyaka na’budu waiyyaka Nasta’in, yaitu menjadikan segala amal, ucapan, pemberian, menahan pemberian, kecintaan, kebencian, dan muamalah lahiriah serta batiniah mereka hanya untuk mencari wajah Allah. Mereka tidak menginginkan balas budi dari manusia. Tidak pula mencari kedudukan di sisi mere-ka. Tidak mencari pujian dan kedudukan di hati-hati mereka dan tidak pula lari dari cercaan mereka. Dan bahkan mereka (orang-orang yang ikhlas) menganggap manusia ini seperti penghuni kuburan yang tidak memiliki kesanggupan memberi-kan manfaat dan menolak mudharat, serta tidak bisa menghidupkan, mematikan, dan mem-bangkitkan.”
(Madarijus Salikin, hal. 83)
Dalil-dalil selanjutnya sangatlah banyak. Di antaranya firman Allah.........
5. Dalil Ke Lima
“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka mengikhlaskan agama untuk Allah yaitu agama yang lurus, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.”
(Al-Bayyinah: 5)
6. Dalil Ke Enam
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya amal itu sah dengan niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkan. Barangsiapa hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah berhijrah kepa-da Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrah kepada dunia yang akan didapatnya, atau wanita yang akan dinikahinya maka dia akan mendapatkannya.”
7. Dalil Ke Tujuh “Allah berfirman: ‘Aku tidak butuh kepada sekutu, maka barangsiapa melakukan satu amalan dan dia menyekutukan-Ku padanya (dalam amalan itu) dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya bersama amalan syiriknya’.”
“Ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah baik berbentuk ucapan atau perbuatan yang nampak ataupun tidak nampak.”
Terlebih lagi, pada amalan ruqyah ini terdapat unsur ta’awun (tolong-menolong) syar’i dalam upaya melepaskan saudara kita dari belenggu yang memberatkan dirinya. Dalil-dalil yang menunjukkan ruqyah sebagai salah satu bentuk ibadah terlalu banyak. Di antaranya, Allah berfirman........
“Tolong-menolonglah kalian di dalam kebajikan dan ketaqwaan dan jangan kalian tolong-menolong di dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”
(Al-Maidah: 3)
Berikut dalil-dalil yang bisa menjadi landasan.
1. Rasulullah S.A.W bersabda...............................
“Barangsiapa melepaskan saudaranya dari kesulitan di dunia, niscaya Allah akan melepaskannya dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. Dan barangsiapa memberikan kemudahan bagi saudaranya yang mendapat-kan kesulitan, niscaya Allah akan memudah-kan urusannya di dunia dan di akhirat. Serta barangsiapa menyembunyikan aib saudara-nya, maka Allah akan menyembunyikan aibnya di dunia dan akhirat. Pertolongan Allah selalu menyertai seorang hamba, selama hamba itu menolong saudaranya.”
2. “Dari Salim, dari bapaknya (Ibnu ‘Umar), bahwa Rasulullah S.A.W bersabda................
‘Seorang muslim merupakan saudara muslim lainnya. Maka tidak boleh mendzaliminya dan tidak boleh menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa memenuhi hajat saudaranya, niscaya Allah akan selalu memenuhi hajatnya. Dan barangsiapa mengeluarkan saudaranya dari kesulitan, niscaya Allah akan mengeluarkannya dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib saudaranya, niscaya Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.”
3. “Dari ‘Aisyah......
Bahwa Nabi meniup dirinya ketika sakit di akhir hayat beliau dengan al-mu’awwidzat. Dan ketika berat atas beliau (untuk melakukannya), (kata ‘Aisyah) sayalah yang meniupkan untuk beliau, lalu saya mengusapnya dengan tangan beliau sendiri karena barakah yang terkandung padanya.”
4. “Dari Ummu Salamah.......
bahwa Nabi S.A.W melihat di rumahnya seorang budak wanita dan di wajahnya terdapat warna (kehitaman) maka (beliau berkata): ‘Ruqyahlah dia, sesungguhnya dia terkena penyakit ‘ain (pandangan jahat).”
Dari dalil-dalil di atas maka jelas bahwa ruqyah itu merupakan sebuah ibadah kepada Allah. Syarat Ibadah
Karena ruqyah itu merupakan sebuah ibadah, sudah barang tentu akan bernilai ibadah di sisi Allah jika dibangun di atas aqidah tauhid yang benar, sebagaimana firman Allah.........
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyem-bah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Abdullah bin ‘Abbas c mengatakan illa liya’buduuni artinya......
“Agar mereka mengakui peribadatan adalah milik-Ku, baik dalam keadaan suka ataupun terpaksa.”
(Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4/246)
Al-Imam Al-Qurthubi t menga-takan.........
“(Maknanya adalah) tidaklah Aku menciptakan orang-orang yang mendapat-kan kebahagiaan dari kalangan jin dan manusia, melainkan (karena) mereka mentauhidkan-Ku.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t mengatakan..........
“Ibadah adalah tauhid.”
Kemudian dijelaskan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.......
“Ibadah itu dibangun di atas tauhid. Dan setiap ibadah yang tidak (didasari) tauhid bukanlah sebuah ibadah. Terlebih lagi,
sebagian ulama salaf menafsirkan firman Allah ‘kecuali agar mereka menyembah-Ku’ yaitu kecuali agar mereka mentauhidkan Aku. Dan ini sangat sesuai dengan apa yang disimpulkan pengarang (yakni Asy-Syaikh Muhammad) bahwa ibadah itu adalah tauhid, dan setiap ibadah yang tidak dibangun di atas tauhid adalah (ibadah) batil.
Rasulullah S.A.W bersabda.........
‘Allah berfirman: Aku tidak butuh kepada sekutu. Barangsiapa melakukan sebuah amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku (pada amalan tersebut), Aku akan membiar-kannya dengan amalan syiriknya tersebut.”
(Al-Qaulul Al-Mufid Syarah Kitab Tauhid, 1/55)
Realisasi tauhid dalam peribadatan adalah “Tidak bertujuan melainkan mengharapkan wajah Allah dan tidak memberikannya kepada selain-Nya. Yaitu ibadah yang tidak dikotori oleh noda-noda riya`, mengharapkan pujian dari orang lain, atau agar memiliki tempat dalam hati manusia.”
Ada dua syarat ibadah yang harus dipenuhi ketika akan menegakkan sebuah ibadah: Pertama: Ikhlas semata-mata mencari wajah Allah.
Ikhlas artinya mengharapkan ridha Allah semata dan tidak menginginkan selainnya. Keikhlasan ini merupakan implementasi dari syahadat .
Hudzaifah Al-Mar’asyi mengatakan..........
“Ikhlas adalah keseimbangan antara perbuatan lahiriah dan batiniah seorang hamba.”
Abu Qashim Al-Qusyairi menjelaskan..........
“Ikhlas adalah mengesakan Allah dalam ketaatan yang hanya bertujuan untuk-Nya. Yakni dengan ketaatan yang dilakukannya itu, dia ingin mendekatkan diri kepada Allah dan bukan kepada selain-Nya, seperti berbuat karena makhluk, mencari pujian orang, senang mendapatkan pujian, atau segala makna yang tidak untuk mendekat-kan diri kepada Allah.”
Abu Muhammad Sahl bin Abdullah t menjelaskan..........
“Orang-orang berilmu telah melakukan penggalian dalam menaf-sirkan keikhlasan. Dan mereka tidak menemukan (makna lain) selain: Gerak dan diamnya seseorang, baik ketika sendirian atau bersama orang lain, hanyalah untuk Allah semata, dan tidak dicampuri oleh keinginan hawa nafsu dan dunia.”
(Al-Adzkar karya Al-Imam An-Nawawi hal. 5)
Ibnu Qudamah t menjelaskan...........
“Ikhlas merupakan lawan syirik. Barang-siapa tidak ikhlas, dia adalah seorang musyrik. Namun kesyirikan itu memiliki tingkatan-tingkatan. Keikhlasan di dalam ketauhidan lawannya adalah kesyirikan di dalam uluhiyyah. Dan kesyirikan itu ada yang tersembunyi dan ada yang nyata. Begitu juga keikhlasan.”
(Mukhtashar MinhajulQashidin, hal. 366)
Ibnul Qayyim t menjelaskan..........
“Orang-orang yang ikhlas adalah: orang-orang yang merealisasikan Iyyaka na’budu waiyyaka Nasta’in, yaitu menjadikan segala amal, ucapan, pemberian, menahan pemberian, kecintaan, kebencian, dan muamalah lahiriah serta batiniah mereka hanya untuk mencari wajah Allah. Mereka tidak menginginkan balas budi dari manusia. Tidak pula mencari kedudukan di sisi mere-ka. Tidak mencari pujian dan kedudukan di hati-hati mereka dan tidak pula lari dari cercaan mereka. Dan bahkan mereka (orang-orang yang ikhlas) menganggap manusia ini seperti penghuni kuburan yang tidak memiliki kesanggupan memberi-kan manfaat dan menolak mudharat, serta tidak bisa menghidupkan, mematikan, dan mem-bangkitkan.”
(Madarijus Salikin, hal. 83)
Dalil-dalil selanjutnya sangatlah banyak. Di antaranya firman Allah.........
5. Dalil Ke Lima
“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka mengikhlaskan agama untuk Allah yaitu agama yang lurus, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.”
(Al-Bayyinah: 5)
6. Dalil Ke Enam
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya amal itu sah dengan niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkan. Barangsiapa hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah berhijrah kepa-da Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrah kepada dunia yang akan didapatnya, atau wanita yang akan dinikahinya maka dia akan mendapatkannya.”
7. Dalil Ke Tujuh “Allah berfirman: ‘Aku tidak butuh kepada sekutu, maka barangsiapa melakukan satu amalan dan dia menyekutukan-Ku padanya (dalam amalan itu) dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya bersama amalan syiriknya’.”


0 Komentar Ruqyah Merupakan Salah Satu Ibadah kepada Allah
Posting Komentar