Ibnu Rajab t mengatakan: Diriwayatkan dari Ibnu Abid Dunya dengan sanad yang terputus dari ‘Umar bahwa beliau berkata.......
“Tidak ada amal bagi orang yang tidak berniat, dan orang yang tidak ikhlas tidak akan mendapatkan ganjaran.”
Beliau (Ibnu Rajab) mengatakan..........
“Maknanya adalah tidak ada pahala bagi orang yang tidak mengharapkan pahala dari sisi Allah dalam amalannya.” Dan diriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Ibnu Mas’ud, beliau berkata: “Sebuah perkataan tidak akan bermanfaat melainkan bila diamalkan. Dan ucapan dan perbuatan tidak akan bermanfaat melainkan dengan niat. Dan ucapan, amalan dan niat tidak akan bermanfaat melainkan bila sesuai dengan Sunnah Rasulullah S.A.W.”
Yahya bin Abi Katsir berkata..........
“Belajarlah kalian tentang niat. Karena niat lebih tinggi kedudukannya daripada amal.”
Zubaid Al-Yami t berkata..........
“Sesung-guhnya aku sangat senang mendahulukan niat di dalam segala sesuatu, sampaipun dalam permasalahan makan dan minum.”
Beliau juga berkata........
“Berniatlah kamu dalam segala perkara yang kamu inginkan kebaikan padanya, sampaipun kamu hanya keluar ke tempat sampah.”
Dawud Ath-Tha`i t berkata..........
“Aku melihat semua kebaikan dihimpun dalam kebagusan niat. Dan niat itu cukup sebagai kebaikan, sekalipun kamu tidak mengamal-kannya.”
Sufyan At-Tsauri t berkata.........
“Tidak ada sesuatu yang paling sulit aku obati daripada niat, karena niat tersebut berbolak-balik dalam diriku.”
Yusuf bin Asbath berkata.........
“Membersihkan niat dari kerusakan lebih sulit daripada melakukan amalan dengan penuh kesungguhan.” Beliau t berkata juga: “Mengarahkan semuanya untuk Allah lebih utama dari berjihad di jalan Allah.”
Mutharrif bin Abdullah berkata:
“Kebagusan hati adalah karena kebagusan amal, dan kebagusan amal adalah karena kebagusan niat.”
Sebagian ulama salaf berkata........
“Barangsiapa ingin disempurnakan nilai amalnya maka hendaklah dia memperbaiki niatnya. Karena Allah akan mengganjar seorang hamba bila niatnya baik, sampai-pun permasalahan suapan nasi.”
Ibnul Mubarak t berkata........
“Betapa seringnya amalan yang kecil menjadi besar karena niat. Dan betapa seringnya amalan besar menjadi kecil karena niat.”
Ibnu ‘Ajlan t berkata........
“Sebuah amalan tidak akan menjadi baik melainkan dengan tiga perkara: Taqwa kepada Allah, niat yang baik, dan sesuai dengan tuntunan.”
Fudhail bin ‘Iyadh t berkata..........
“Sesungguhnya Allah menginginkan darimu niat dan keinginanmu.”
(Lihat Jami’ Ulum wal Hikam, hal. 18)
Dalil lain........
Ibadah tersebut ada tuntunan-nya dari Rasulullah S.A.W atau sesuai dengan sunnah Nabi. Syarat kedua ini merupakan imple-mentasi dari syahadat .
Kedua syarat ini tidak bisa dipisahkan sebagaimana pula tidak bisa dipisahkan antara Persaksian dengan persaksian .
Rasulullah S.A.W bersabda........
“Barangsiapa melakukan sebuah ibadah yang tidak ada perintahnya dariku maka amalan tersebut tertolak.”
“Tidak ada amal bagi orang yang tidak berniat, dan orang yang tidak ikhlas tidak akan mendapatkan ganjaran.”
Beliau (Ibnu Rajab) mengatakan..........
“Maknanya adalah tidak ada pahala bagi orang yang tidak mengharapkan pahala dari sisi Allah dalam amalannya.” Dan diriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Ibnu Mas’ud, beliau berkata: “Sebuah perkataan tidak akan bermanfaat melainkan bila diamalkan. Dan ucapan dan perbuatan tidak akan bermanfaat melainkan dengan niat. Dan ucapan, amalan dan niat tidak akan bermanfaat melainkan bila sesuai dengan Sunnah Rasulullah S.A.W.”
Yahya bin Abi Katsir berkata..........
“Belajarlah kalian tentang niat. Karena niat lebih tinggi kedudukannya daripada amal.”
Zubaid Al-Yami t berkata..........
“Sesung-guhnya aku sangat senang mendahulukan niat di dalam segala sesuatu, sampaipun dalam permasalahan makan dan minum.”
Beliau juga berkata........
“Berniatlah kamu dalam segala perkara yang kamu inginkan kebaikan padanya, sampaipun kamu hanya keluar ke tempat sampah.”
Dawud Ath-Tha`i t berkata..........
“Aku melihat semua kebaikan dihimpun dalam kebagusan niat. Dan niat itu cukup sebagai kebaikan, sekalipun kamu tidak mengamal-kannya.”
Sufyan At-Tsauri t berkata.........
“Tidak ada sesuatu yang paling sulit aku obati daripada niat, karena niat tersebut berbolak-balik dalam diriku.”
Yusuf bin Asbath berkata.........
“Membersihkan niat dari kerusakan lebih sulit daripada melakukan amalan dengan penuh kesungguhan.” Beliau t berkata juga: “Mengarahkan semuanya untuk Allah lebih utama dari berjihad di jalan Allah.”
Mutharrif bin Abdullah berkata:
“Kebagusan hati adalah karena kebagusan amal, dan kebagusan amal adalah karena kebagusan niat.”
Sebagian ulama salaf berkata........
“Barangsiapa ingin disempurnakan nilai amalnya maka hendaklah dia memperbaiki niatnya. Karena Allah akan mengganjar seorang hamba bila niatnya baik, sampai-pun permasalahan suapan nasi.”
Ibnul Mubarak t berkata........
“Betapa seringnya amalan yang kecil menjadi besar karena niat. Dan betapa seringnya amalan besar menjadi kecil karena niat.”
Ibnu ‘Ajlan t berkata........
“Sebuah amalan tidak akan menjadi baik melainkan dengan tiga perkara: Taqwa kepada Allah, niat yang baik, dan sesuai dengan tuntunan.”
Fudhail bin ‘Iyadh t berkata..........
“Sesungguhnya Allah menginginkan darimu niat dan keinginanmu.”
(Lihat Jami’ Ulum wal Hikam, hal. 18)
Dalil lain........
Ibadah tersebut ada tuntunan-nya dari Rasulullah S.A.W atau sesuai dengan sunnah Nabi. Syarat kedua ini merupakan imple-mentasi dari syahadat .
Kedua syarat ini tidak bisa dipisahkan sebagaimana pula tidak bisa dipisahkan antara Persaksian dengan persaksian .
Rasulullah S.A.W bersabda........
“Barangsiapa melakukan sebuah ibadah yang tidak ada perintahnya dariku maka amalan tersebut tertolak.”


0 Komentar Beberapa Untaian Hikmah tentang Ikhlas
Posting Komentar