Mari Berbagi Kebaikan

Blog Postingan Kajian dan Hal Bermanfaat Lainnya

Sabtu, 17 Juni 2017

Niat yang Jelek adalah Perusak Ibadah

Di antara bentuk gambaran niat yang jelek adalah:
a.    Riya`
Riya` yaitu memamerkan sebuah amalan dengan tujuan ingin mendapatkan pujian dan sanjungan, ingin mendapatkan pengagungan atau pengakuan dari manusia.

Riya` termasuk syirik kecil bila sedikit, dan akan menjadi syirik besar bila banyak (lihat Syarah Riyadhus Shalihin, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, 2/1712)

“Allah berfirman: ‘Aku tidak butuh kepada sekutu, maka barangsiapa melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku padanya (dalam amalan tersebut) dengan selain-Ku, Aku akan meninggalkannya bersama amalan syiriknya.”


b.    Sum’ah

Sum’ah adalah memperdengarkan amal kebajikan agar mendapatkan pujian, sanjungan, atau kedudukan di hati manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W:

“Barangsiapa memperdengarkan kebaikannya, Allah akan memperdengarkan keburukannya (di dunia dan akhirat) dan barangsiapa yang memamerkan amalannya, Allah akan memamerkan keburukannya (di dunia dan akhirat).”9

c.    Berbuat untuk dunia

Hal ini telah ditegaskan oleh Ibnul Qayyim t: “Adapun kesyirikan di dalam keinginan dan niat, bagaikan laut yang tidak bertepi. Sedikit orang yang selamat darinya. Barangsiapa yang beramal namun meng-inginkan selain wajah Allah, meniatkan sesuatu yang bukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, dan bukan karena meminta gan-jaran dari Allah,

sungguh dia telah melakukan kesyirikan di dalam keinginan dan niatan.

Ikhlas adalah seseorang memurnikan ucapan dan perbuatannya untuk Allah, keinginan serta niatnya. Inilah agama Nabi Ibrahim u, yang Allah telah memerin-tahkan seluruh

hamba dengannya, dan tidak akan diterima dari siapapun selain agama ini. Dan ini merupakan hakikat Islam, sebagaimana firman Allah (yang artinya): “Barangsiapa

mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima. Dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.”

Inilah agama Nabi Ibrahim u. Barangsiapa membencinya, sungguh dia termasuk orang-orang yang paling bodoh.” (Al-Jawabul Kafi hal. 115, lihat ‘Aqidah At-Tauhid hal. 98)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata: “Beramal karena dunia dan dalam rangka mendapatkan harta benda, maka:

1.    Jika keinginan seorang hamba seluruhnya demi tujuan ini dan tidak ada keinginan untuk mendapat ridha Allah dan akhirat, maka dia tidak akan mendapatkan bagian apapun di akhirat. Amal semacam ini tidak mungkin muncul dari seorang mukmin. Karena seorang mukmin meskipun lemah imannya, pasti memiliki niat untuk beramal karena Allah dan dalam rangka mendapatkan bagian di akhirat.

2.    Jika seseorang beramal karena Allah dan karena dunia, dan kedua tujuan ini keadaannya sama atau mendekati sama, walaupun ia seorang mukmin, maka ia berada dalam keadaan kurang dalam keimanan, tauhid, dan keikhlasan. Begitu pula amal-nya kurang, karena kehilangan kesempurnaan ikhlas.

3.    Seseorang yang beramal karena Allah semata dan keikhlasannya sempurna, namun ia mengambil semacam gaji dari amalan yang ia kerjakan untuk digunakan membantu pekerjaan dan agamanya - seperti seorang mujahid yang mendapat harta rampasan perang- maka tidak ada efek negatif bagi iman dan tauhidnya jika ia mengambilnya. Karena ia beramal bukan untuk tujuan dunia, namun ia beramal dalam rangka menegakkan agama. Dan ia bertujuan dengan apa yang dia dapatkan itu untuk membantu tegaknya agama.

Jelasnya, “Tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara.” Ruqyah adalah sebuah ibadah, tidak boleh dijadikan jembatan alternatif mencari nama atau popularitas. Wallahu ta’ala a’lam.



0 Komentar Niat yang Jelek adalah Perusak Ibadah

Posting Komentar

Back To Top